Cirebon Kudu Priben

tapal-batas

Berbicara tentang Cirebon maka tak bisa dilepas dengan sejarahnya yang cukup kompleks dan panjang. Bagaimanapun, arti sebuah nama “Cirebon” dalam hal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu makna dibalik kata tersebut. Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban (carub dalam bahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab), agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon.

Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan kata cirebon juga dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam bahasa Cirebon disebut (belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.

Cirebon mempunyai letak wilayah geografis yang cukup strategis. Karena menjadi lokasi transisi sekaligus demarkasi antara wilayah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Jawa Tengah. Di apit oleh dua kubu; kubu utara luas membentang lautan sementara di kubu kanan terdapat Gunung Ciremai yang dikenal tertinggi ketiga di Jawa. Oleh karena itu, jika dilihat secara dua poros tersebut (lautan dan pegunungan), Cirebon mengandung potensi alam yang cukup besar serta menjadi pekerjaan yang berat terkait bagaimana urusan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam hal ini mengelolah dengan baik potensi-potensi yang tergambar jelas oleh nelayan sebagai motor penggerak terhadap lautan dan petani sebagai motor penggerak sektor pegunungan.

Kemakmuran dan kesejahteran rakyat merupakan tujuan utama semua negara maupun daerah yang harus dicapai, lebih khusus Cirebon. Baik Cirebon Kota atau wilayah kabupaten dan tetap dengan mensinergikan keduanya secara seimbang. Terkadang dalam perjalanannya harus menerima fakta bahwa masyarakat yang tinggal di Kabupaten Cirebon kurang mendapatkan respon yang cukup serius. Bisa dilihat bagaimana perbandingan luas wilayahnya, wilayah kabupaten merupakan wilayah yang mendominasi karena memiliki wilayah yang lebih luas jika dikomaparatifkan dengan wilayah kota. Alhasil, prestasi yang dicapai keduanya pun sangat berbeda secara signifikan dalam hal pendidikan, insfrastruktur maupun perekonomian. Jika di kota, para elit kapitalis atau kaum investor sudah merembak meraja lela, sedangkan di Kabupaten syarikat kaum buruh masih berdiri kokoh secara dominan.

Kapitalisme harus menjadi persoalan yang urgen khususnya di wilayah kota. Sejauh mata memandang, bangunan gedung pencakar langit mulai terlihat berdiri mengindikasikan awal babak baru bagi dunia kapitalisme sekaligus menjadi tantangan berat bagi kaum wong cilik yang berada di sekitar wilayah kota. Bisa diidentifikasi lewat pola hidup wong cilik yang cenderung memegang ekonomi kelas bawah.

Di samping kapitalisme, arus globalisasi yang termanifestasi ke dalam bentuk modernitas telah membawa perubahan yang cukup siginifikan di Cirebon. Bangunan-bangunan megah mulai didirikan seperti; bar atau diskotik, guna memuaskan bagi orang yang doyan hiburan, hotel-hotel yang menggairahkan para kaum kelas atas atau elite, mall atau super market mewah kelas atas yang serba memanjakan para kaum matrealisme-hedonisme, dan tempat nongkrong yang menyajikan menu kopi, galak didirikan di mana-mana. Hal tersebut bagian dari abad modern yang tidak bisa dipisahkan, yang menuntut manusia untuk mengembangkan sayap dalam aspek-aspek kehidupan secara mewah.

Di sisi lain, perlu proteksi secara aktif untuk memeriksa secara selektif terhadap perkembangan yang sifatnya secara fisik atau riil. Bisa dikatakan sikap pemerintah yang terlalu terbuka terhadap arus globalisasi sehingga dengan mudah kaum kapitalis mendirikan proyek istimewah tersebut. Dapat dikatakan kalah jika bangungan-bangungan megah tersebut hanya lebih banyak memberikan efek negatif atau mafsadat terhadap kemakmuran sekaligus kemajuan kota cirebon. Sudah tergambar jelas garis inferensinya bahwa kota cirebon sudah tak lagi arif dengan nilai-nilai lokal jika lebih memperhatikan kaum elite. Di tengah pembangunan ekonomi berbasis modern juga bukan berarti melupakan elemen yang sifatnya kecil, karena jika hanya melihat ke atas sementara wong cilik masih membutuhkan semacam lapangan pekerjaan yang memadai serta model berbisnis yang pas-pasan. Dalam hal ini, memprioritaskan wong cilik juga harus ditegakkan secara adil.

Peninjauan ulang manfaat-madarat terhadap hasil kreasi modernisasi di Cirebon harus dilakukan kembali. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas dalam perekonomian antara wong cilik dengan wong elit. Arus globalisasi telah membawa amnesia seseorang terhadap pribadi seseorang sebenarnya. Terbukti bahwa manusia zaman sekarang telah banyak yang lupa bahkan melupakan warisan-warisan terdahulu. Jika demikian, maka perlu adanya kesadaran secara substansial terhadap warisan-warisan leluhur terhadap masyarakat Cirebon dengan selalu memprioritaskan penjagaan dengan cara memperkenalkan dan mensosialisasikan kepada para pemuda yang hidup di era kekinian, serta melestarikan kearifan lokal tersebut secara terus-menerus. Karena secara tidak langsung, di samping sebagai antisipator, cara demikian merupakan salah satu bentuk tindakan preventif terhadap arus modernisasi yang menginginkan masyarakat untuk berlari jauh meninggalkan warisan-warisan para leluhur. Setuju juga jika dikatakan perlahan-lahan menggerogoti kearifal lokal.

Dengan memperhatikan wong-wong cilik dari berbagai segi, akan diketahui betapa peran mereka sangat dibutuhkan dalam membangun kesejahteraan di samping terus bergelut dengan perekonomiannya yang kadang naik dan kadang turun. Dikatakan naik-turun karena mayoritas dari mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Kesadaran pemerintah Kota Cirebon maupun Kabupaten Cirebon terhadap hal-hal demikian yang kadang enggan bahkan dilupakan bagi pejabat untuk menyalurkan bantuannya terhadap mereka. Di mana letak kemajuan jika dari segi SDM (Sumber Daya Manusia) sendiri masih jauh dari kata kemakmuran dan kesejahteraan. Tidak perlu membangun bangunan yang mewah, menerima investor dengan sigap jika yang diurus adalah urusan pribadi yang hanya mensejahterakan dirinya bukan masyarakatnya.

Jelas sekali telah terjadi ketimpangan antara wong elite dengan wong cilik, wong cilik hanya menerima dampaknya sementara mereka kaum elit bersenang-senang. Ditambah lagi dengan fakta sekarang, jalanan sudah menjadi ladang empuk bagi mereka yang ingin memanjakan para tamunya dan jelas-jelas riil menggangu ketertiban umum, namun dibalik itu mereka siap untuk memberikan asupan gizi kepada para petinggi yang mempunyai otoritas kendati efek negatifnya sangat signifikan. Jalanan yang dulu lancar sekarang macet parah. Hampir tiap hari seperti ini, belum lagi pabrik-pabrik yang mulai menjulang berdiri menuai banyak kontroversi karena lagi-lagi pemerintah Cirebon tidak memikirkan hal-hal yang kecil, yang merupakan bagian dari kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Cirebon. Para atasan sekarang dengan mudahnya disuap demi kepentingan pribadinya. Sangat ironis memang, entah sampai kapan hal demikian terus terjadi. Lagi-lagi kaum kapitalisme (yang punya modal) memenangi pertarungan ini.
Jadi, Cirebon merupakan daerah yang sangat potensial akan kemajuan baik dari segi insfrastruktur, ekonomi maupun pendidikan. Diperlukan adanya kerja sama antar lini, baik atasan maupun bawahan semua berintergritas demi kemajuan Cirebon. Tinggalkan segala bentuk kepentingan-kepentingan pribadi yang hanya akan memberangus kemakmuran dan kesejahteraan. Pemerintah Cirebon jangan hanya mengulurkan tangannya untuk menerima segala bentuk proposal demi bangunan-bangunan yang mewah nan-megah, coba juga mengulurkan tangannya untuk wong-wong cilik yang masih perlu untuk disejahterakan. Memberikan lapangan kerja yang proporsional sehingga menimalisir masyakrat cirebon untuk memilih jalan ke luar merantau dengan alasan Cirebon yang masih kurang cukup untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan hidup. Mungkin inilah yang dimaksud Syeikh Sunan Gunung Djati dengan “fakir miskin” yang direpresentasikan dengan wong cilik. Sebagaimana pesannya yakni “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”.

Dikutip dari tuliasan “Ang Fikih Kurniawan
Mahasiswa semester 7 (tujuh). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Beliau juga termasuk anggota FLP (Forum Lingkar Pena) angkatan XII Cabang Ciputat.

Tegalgubug dalam ‘Bingkai’ Kesetaraan Gender

 Oleh Fiqih Kurniawan : Tulisan ini berangkat dari fenomena yang ada di Desa Tegal gubug Kabupaten Cirebon dan sekaligus penulis merupakan sosok yang lahir di desa tersebut. Penulis menggunakan pendekatan sosio-kultural-humanis dengan analisis gender. Pendekatan itu dengan melihat persoalan sosial yang memprioritaskan keharmonisan dalam memupuk tali persaudaraan dalam lingkup tertentu, seperti dalam lingkup pasar. Kemudian […] Continue reading →

Konsep Elit Menurut Anthony Giddens

 Oleh Ang Wisnu Nurbaya : Konsep strukturasi yang dikemukakan Anthony Giddens (1984) dapat dipergunakan sebagai acuan yang melandasi analisis terhadap ‘pasang naik’ dan ‘pasang surut’ elit politik lokal. Lebih tepatnya, konsep tersebut dipinjam untuk menjelaskan hubungan antara elit politik lokal yang diposisikan sebagai pelaku (agency) dengan struktur (structure) yang oleh Giddens dikonseptualisasikan sebagai aturan (rules) […] Continue reading →

Kritik Terhadap Penilai Falsafah Negatif

 Falsafah? Apa itu falsafah? Itulah ilmu asing bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang banyak dipertanyakan. Seperti ilmu baru, namun sudah ada sejak enam abad sebelum Masehi. Lahirnya falsafah yang dipelopori oleh Thales (Miletus-Yunani, 624-545 SM.) yang terkenal dengan nama falsafah Pra-Socrates, membahas tentang asal usul alam semesta. Sangat luas memang, ketika kita mencoba menjelaskan secara terperinci, […] Continue reading →